Membaca merupakan satu transformasi ilmu dari media penyedia ilmu (semisak buku, majalah,dll) ke otak kita. Namun hal itu bagi sebagian orang malas dilakukan, alasannya karena fatkor ekonomi. Mereka tak mau merogoh saku mereka untuk membeli buku. Padahal-seperti yang kita yakini bersama-dengan membaca kita akan tahu banyak hal.
Dengan membaca, kita akan tahu isi laut tanpa harus terjung ke laut, kita akan tahu apa yang ada dalam gunung, tanpa harus masuk de dalam gunung, dst, dst.
Kalau keinginan membaca sangat tinggi, sedang tak ada biaya untuk mewujudkannya. Satu-satunya jalan adalah dengan berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan merupakan satu tempat penyedia banyak buku yang dapat kita pinjam kapan saja. Jadi ayo berkunjung ke perpustakaan!!
Pergi!!! Kau yang hancurkanku Kau yang gagalkan masa depanku Kata-katamu manis Kata tuk menutup mataku Kau hibur aku dengan mimpi indahmu Hingga ku tak lagi berkerja Hingga ku tak lagi berkarya Kau hiasi malamku..... dengan kehalusan selimutmu dengan keempukan bantalmu Pergi… Pergi… Jauhi aku Tak ingin ku bersamamu Bawa keangkuhanmu Menyingkirlah Pergi... Pergi…
Surat adalah satu cara penyampaian pesan yang sangat terhormat
Bismilaahirrohmaanirrohiim.
Azmi termenung di sudut perpustakaan, mengamati sekitar dengan pandangan kosong, berbagai masalah hinggap di benakknya, mulai dari tugas kuliah yang numpuk, adiknya di rumah yang sakit di tambah lagi surat dari Niswah, kekasihnya yang membuatnya pusing, yaitu surat yang sudah seminggu ini di simpannya. Memang sudah hampir tiga tahun ini Azmi tidak pulang ke Indonesia. Tepatnya sejak dia kuliah di Mesir. Rasa rindu terhadap tanah air tentu tumbuh subur di hatinya, tapi bagaimanapun dia harus bisa mengatasi semua itu demi masa depannya.
Azmi kembali tertunduk, mengamati sebuah novel arab yang baru di ambilnya dari rak buku. Sebuah novel religius tentang cinta, yang akhirnya cinta itu kembali pada yang di atas. Namun apakah Azmi yakin dia bisa seperti tokoh dalam novel itu, di mana sang tokoh rela mengorbankan cintanya hanya demi mendapatkan cinta sejati, cinta sang Khaliq. Hati Azmi semakin sayu, rindunya terhadap kekasihnya belum juga hilang, justru rindu itu kembali hadir dan menyergapnya saat teringat paras menawan Niswah. Surat yang di tulis oleh Niswah ketika masih hidup, yang ia sendiri ragu untuk mengirimnya ke Azmi atau tidak. Yang pada akhirnya, saat Niswah sudah tidak ada di dunia ini, surat itu ditemukan Zahra di dalam blinder Niswah, Zahra adalah teman dekat Niswah, mereka berteman sejak kecil. Zahra paham betul bagaimana kisah cinta Niswah dan Azmi karena ia sebagai tempat curhat niswah. Tiga hari setelah kematian Niswah, surat itu di kirim Zahra ke Azmi.
Dan kini surat itu berada di genggaman Azmi. Terselip di antara pembatas novel.
Perlahan Azmi mengamati sampul novel yang berwarna merah muda. Azmi terdiam, ada semburat piluyang bergelanyut, jika dia harus meninggalkan Niswah. Ada luka jika dia harus meninggalkan dia, dan Azmi takut akan melukai gadis sebaik Niswah." Ya allah tolong hamba!!" gumam Azmi.
Untuk sang penjaga surga di negeri timur.
Assalamualikum Wr. Wb.
Semoga Allah selalu melindungimu dengan rahmat dan hidayah-Nya. Mas, ,maafin Niswah ya mas. Jika mungkin dengan datangnya surat ini Niswah melukai mas. Sebenarnya Niswah tidak mau melakukan semua ini. Niswah benar-benar cinta mas, dan sampai kapanpun cinta Niswah akan selalu untuk mas. Tapi mas, Niswah berharap setelah datangnya surat ini, mas bisa melupakan Niswah. Maaf, bukanya Niswah tidak cinta, sekali lagi, Niswah akan selalu cinta mas.
Mas, sejak kepergian mas tiga tahun lalu, Niswah sakits, Niswah rindu sama mas, Niswah ngga' tahu apa yang harus Niswah lakukan. Abah dan umi juga bingung, ingin rasanya Niswah menelpon mas, tapi Niswah takut menggangu mas. Niswah bingung. Akhirnya Niswah menulis selembar surat ini. Sebenarnya Niswah ragu untuk mengirim surat ini. Tapi mas harus tetap bahagia ya mas, walaupun besok mas tidak lagi bisa bertemu Niswah, tapi mas harus ingat, hati dan cinta Niswah akan selalu bersama mas.
Danmungkin ketika mas membaca surat ini Niswah sudah tidak ada lagi di dunia ini kalau apa yang dikatakan dokter itu benar-benar di kehendaki Allah SWT. Tadi Niswah dengar kalau dokter memfonis hidup Niswah tidak lama lagi, karena tumor otak yang Niswah derita. Maafin Niswah ya mas, karena selama ini Niswah tidak pernah cerita ke mas kalau Niswah punya peyakit kanker. Niswah takut mas mengurungkan niat mulya mas untuk belajar ke Mesir, negeri piramida itu.
Mas, udah dulu ya, mas harus tetep ingat Niswah dalam doa mas, Niswah butuh doa mas dan Niswah harus segera kembali ke cinta sejati Niswah. Sekali lagi maafin Niswah. Niswah akan menunggu mas di surga.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Dari yang selalu mencintaimu. Khairun niswah
Azmi terdiam, perlahan tetes bening mengalir di pipinya, membasahi lembaran surat cinta terakhir dari sang kekasih. Tapi senyum, tetap tersungging di bibir Azmi. Mencoba mengsuir duka." Semoga engkau tenang di surga, dan esok kita akan bertemu dalam lautan rahmat-Nya" ujar Azmi lirih.
Azmi berdiri seketika. Menerawang jauh ke luar jendela. Berharap semua luka dan duka akan kepergian kekasihnya akan segera hilang, dan seketika sebait dai terbang tinggi, bergeming dari bibir Azmi. Semoga cinta itu akan kekal abadi, dan doa akan selalu mengiringi langkah sang kekasih menuju ke kharibaan-Nya.
Perpustakaan merupakan satu tempat sumber bacaan yang sangat ekonomis
Bismillahirrahmanirrahim……
Kenyataan mengatakan bahwa, ternyata pandai bukan milik bangsawan, namun milik orang yang mau membaca. Membaca memang belum menjadi kebudayaan penuh bagi kalangan pelajar, terlebih pada teman-teman santri. Banyak faktor yang mungkin menjadi penyebab kurangnya minat membaca santri. Kebanyakan dari mereka beralasan karena padatnya kegiatan di pesantren selama 24 jam. Namun kami yakin, hal tersebut bukan menjadi alasan pokok hingga mengesampingkan kegiatan membaca buku.
Sebenarnya tidaklah sulituntuk memulai sebuah kegiatan, namun yang lebih sulit adalah mengistiqomahan kegiatan tersebut, atau ajek bahasa jawanya.
Kini Al Irfan mulai berusaha merilis beberapa alternatifprogram yang bisa membuat teman-teman santri ketagiahan baca buku.
Salah satunya dengan hadirnya buletin ini. Buletin yang kini berada di tangan pembaca ini sebagai wahana informasi tentang perpustakaan. Al Irfan juga akan berusaha membuat sebuah kompetisi dalam hal seringnya peminjaman buku. Siapa yang tersering itulah yang menjadi juara. Untuk itu, kami atas nama pengurus perpustakaan Al Irfan telah menyediakan hadiah bagi sang juara. Dan hasil kompetisi tersebut akan kami publikasikan melalui koran pondok, internet, dan lain-lain.
Program terbaru lainnya dari Al Irfan yang masih belum memungkinkan untuk dilasanakan saat ini adalah pemutaran film (bedah film) karena kurang adanya fasilitas yang memadai, yaitu komputer. Karena seperti yang telah para pembaca ketahui, komputer yang ada di perpustakaan Al Irfan hanya dua, yang kesemuanya pasti di pakai ketika melakukan transaksi peminjaman dan pengembalian buku. Program terbaru Al Irfan (pemutara film) ini sengaja kami lakukan, karena kami yakin akan bisa menarik perhatian para anggota Al Irfan. Yang secara otomatis akan membuat mereka berkunjung ke Al Irfan dan sekaligus membuat mereka lebih mengenal perpustakaan. Mungkin dengan ini, mereka akan mengatahui buku-buku yang ada di perpustakaan. Yang pada akhirnya, harapan kami mereka akan mau membaca buku. Oleh karena itu, kami atas nama pengurus perpustakaan Al Irfan memohon do'a semua elemen yang ada ada di bumi Darussalam ini, semoga apa yang menjadi program-program Al Irfan bisa terealisasikan. Amin.....
Tak lupa kami sampaikan kepada semua kalangan, baik guru, siswa, maupun santri yang mau menyumbangkan (wakaf) buku di Al Irfan, kami atas nama pengurus Al Irfan akan selalu siap menampungnya demi untuk menungkatkan kualitas pengetahuan teman-teman santri.
Al Irfan juga menjembatani teman-teman yang mau memesan buku (terserah, yang penting baik). Hal ini kami lakukan karena kami ingin memberikan yang terbaik bagi seluruh anggota.
Gus Dur termasuk salah satu orang berpengaruh di Indonesia, bahkan dunia. Beliau dikenal sebagai bapak pluralisme, hal ini disebabkan karena keberanian beliau membela semua golongan, terutama golongan minoritas. Buku ini sangat cocok di baca bagi semua orang yang ingin mengetahui apa alasan dari semua tindakan Gus Dur yang kadang dianggap oleh sebagian orang sangat kontroversial, bahkan dari golongan Gus Dur sendiri (Nahdlatul Ulama’). Buku ini sangat ilmiah sekali karena memang buah karya saudara “wasid” ini adalah sebuah tesis dalam studiS 2 nya di IAIN Sunan Ampel Surabaya.